Just a moment...
Society

Apakah Tampon Haram?

Ketika iseng-iseng Googling tentang tampon untuk bahan artikel blog ini, saya terpaku pada keywords yang disarankan Google.

‘Apakah tampon itu haram?’

Meski terkesan agak nyeleneh, sudah pasti ada alasan mengapa keyword tersebut disarankan oleh Google: di luaran sana pasti ada banyak orang yang penasaran hukum memakai tampon dalam Islam. Tidak heran, tahun 2019 jumlah penduduk Indonesia diprediksi berjumlah 267 juta jiwa yang mana 87,2% dari jumlah tersebut memeluk agama islam. Selain itu, setengah penduduk Indonesia adalah kaum perempuan, sudah pasti hukum islam dalam penggunaan tampon penting untuk diketahui.

Dalam artikel ini saya ingin mengupas beberapa hal di bawah ini. Langsung lompat ke bagian yang paling membuatmu penasaran atau simak satu per satu yuk!

  • Sejarah singkat dan definisi tampon
  • Hukum tampon dalam islam
  • Penggunaan tampon bagi wanita lajang dalam islam
tampon

Sejarah dan Definisi Tampon

Sebenarnya tampon itu apa sih dan siapa yang menciptakannya? Apakah tampon juga bagian dari konspirasi Illuminati, Wahyudi dan Remason?

Tampon adalah produk kebersihan wanita sekali pakai terbuat dari kapas yang dipadatkan. Cara menggunakan tampon adalah dimasukkan ke dalam vagina untuk menampung darah menstruasi. Asal kata Tampon adalah Tampion dari Bahasa Perancis kuno yang artinya bagian kain yang digunakan untuk menyetempel atau menyumbat.

Tampon bukan barang baru ternyata girls, penggunaan tampon pertama kali yang tercatat di sejarah adalah pada abad ke 15 Sebelum Masehi oleh bangsa Mesir Kuno yang menggunakan papyrus halus. Adapun yang mendesain tampon kapas modern yang saat ini dijual di pasaran adalah Dr. Earle C. Haas dari Denver, Colorado, Amerika Serikat pada tahun 1931. Beliau mendesain tampon karena melihat istrinya tidak nyaman menggunakan pembalut biasa saat menstruasi. Sungguh lelaki yang pengertian ya :’)

Hukum Tampon dalam Islam

Mengingat sejujurnya saya tidak familiar dengan hukum islam, saya kemudian mentweet pertanyaan saya pada mbak Kalis Mardiasih, selebtwit favorit yang aktif di Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Jaringan Gusdurian, dan penulis buku “Muslimah Yang Diperdebatkan”. Kurang lebih pertanyaannya seperti ini:

“Mbak @mardiasih mau serius nanya, pake produk kewanitaan yang dimasukkan ke dalam vagina seperti tampon atau menstrual cup gitu Haram nggak hukumnya? Matur suwun”

Gayung bersambut, mbak Kalis pun kemudian mereply twit saya:

“Aku jadi baca2 soal menstrual cup dan mikirin beberapa hal ya. Ga mudah menghukumi sebuah barang baru, meski intinya tergantung pada kebaikan/keburukannya, tapi dua hal itu juga akan sampai kepada efek. Misal:hukum kontrasepsi, juga bahas efek jangka panjangnya (lanjut)

Dr artikel yg kubaca, ada review masih kesulitan pakai,trus bahan2 menstrual cup yg tersedia apakah menjamin kesesuaian kondisi vagina tiap2 perempuan dsb. Kalo di Indo, tentu tabu ya buat yg masih lajang Gitulah kira2nya. Perlu baca lebih byk lg utamanya dr segi kesehatan”

Intinya, sulit untuk menentukan hukum suatu barang baru yang pada masa Rasulullah belum digunakan walau inti dari hukum suatu hal adalah pada kebaikan dan keburukan, serta efek jangka panjangnya. Meski demikian, titik berat pemikirannya utamanya harus pada segi kesehatan: apakah tampon aman bagi kesehatan penggunanya dalam jangka panjang?

Dilansir dari BetterHealth Victoria, Australia, kendati ditemukan beberapa kasus kecil TSS pada wanita yang menggunakan tampon, penggunaan tampon akan memicu resiko TSS apabila:

  • Tampon dengan varian daya serap sangat tingggi tidak diganti dalam jangka waktu yang sangat lama
  • Wanita menggunakan tampon daya serap sangat tinggi saat flow ringan dan menyebabkan luka di dinding vagina

Jadi, tampon aman dipakai tetapi penggunaannya harus bijak ya 😊 Sama dengan sesuatu lainnya, yang berlebihan memang aka nada dampak negatifnya. (Simak artikel 12 mitos tentang tampon yang sudah terbantahkan untuk cari tahu mitos-mitos lainnya terkait dengan tampon)

Sebagai pembanding, saya juga mengunjungi beberapa laman Google, salah satunya laman islamqa.info yang dikelola oleh Shaykh Muhammad Saalih al-Munajjid.Dalam laman mengenai “Apakah Qur’an dan hadits melarang penggunaan tampon?” terdapat pembahasan bahwa penggunaan tampon harus didasarkan pada penggunaan alat kebersihan wanita yang digunakan pada masa Rasulullah, yang mana diperbolehkan (HR Bukhari, 311). Pada dasarnya penggunaan tampon tidak dilarang, dan segala hal yang tidak dilarang sifatnya diperbolehkan.   

Meski demikian, kutipan hadits di atas adalah mengenai alat kebersihan wanita yang berdasarkan pada kapas, maka dari itu menstrual cup yang berbahan dasar lateks tidak diketahui hukum pembolehannya.  

Penggunaan Tampon bagi Wanita Lajang dalam Islam

Cukup banyak wanita yang takut menggunakan tampon dan seperti yang mbak Kalis katakan dalam twitnya, penggunaan tampon bagi wanita lajang masih dianggap tabu di Indonesia. Memang, di Indonesia dimana komunitas muslim merupakan yang terbesar di dunia dan berdasarkan budaya lampau kita, keperawanan adalah hal yang dianggap sakral dan banyak wanita yang ingin menghindari kerusakan selaput dara.

Di laman daruliftaa.com asuhan Mufti Muhammad Ibn Adam perihal “Apakah penggunaan tampon diizinkan bagi wanita yang belum menikah?” beliau menyimpulkan bahwa penggunaan tampon bagi wanita yang belum menikah dapat menimbulkan prasangka bahwa wanita tersebut sudah kehilangan keperawanannya, walaupun beliau sendiri mengutip al-Ikhtiyar li ta’lil al-Mukhtar, 3/116 yang menyatakan bahwa seorang wanita akan tetap dianggap perawan apabila selaput daranya rusak karena melompat, cedera, atau aliran menstruasi yang kuat.

Meski demikian menurut saya pribadi, harusnya prasangka tersebutlah yang harus dihilangkan dan anggapan bahwa selaput dara wanita adalah segalanya, justru membahayakan bagi kaum perempuan. Sudah terlalu banyak wanita yang tidak mau memeriksakan diri ke ginekolog karena khawatir selaput daranya akan rusak.

Kesimpulan

Kesimpulannya, pada akhirnya belum ada kesimpulan solid mengenai apakah tampon itu haram. Akan tetapi, asalkan tampon tidak menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan (spoiler: enggak kok, selama kamu rajin menjaga kebersihan dengan mengganti tampon dan menggunakan ukuran yang tepat) penggunaannya tetap diperbolahkan.

Bagi wanita yang belum menikah, kalian tidak perlu takut untuk menggunakan tampon karena secara umum, menggunakan tampon tidak akan merusak selaput dara meski bentuk vagina wanita berbeda-beda. Apabila ada situasi yang membuat selaput dara kamu rusak, kamu akan tetap jadi perawana karena keperawanan hanya akan hilang saat kamu berhubungan seksual.

Punya pendapat lain mengenai hukum penggunaan tampon dalam islam? Tinggalkan komentar di bawah ya 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *