Just a moment...
Health

Membedah (Mitos) Selaput Dara

Keperawanan – yang dikaitkan dengan selaput dara merupakan urusan yang luar biasa penting, terutama bagi masyarakat Asia dan Timur Tengah. Saking pentingnya, mengembalikan keperawanan dengan berbagai metode dari penggunaan selaput dara buatan hingga terapi rekonstruksi selaput dara sudah sangat popular dan menjadi sebuah industri. Harganyapun bervariasi, dari $20 hingga $2000 tergantung budget dan preferensi.

Meski demikian, tahukah kamu bahwa sebagian besar hal yang kamu tahu mengenai selaput dara mungkin saja tidak akurat? Tahu nggak sih kalau sebenarnya selaput dara tidak berhubungan dengan keperawananmu? Siapkan dirimu karena kita akan berpetualang menjelajahi mitos umum yang masih dipercaya banyak orang.

Sebagai gambaran singkat, ada beberapa poin penting yang akan kita bahas di artikel ini:

  • Apa itu selaput dara?
  • ‘Selaput’ dara tidak pernah ada
  • Keperawanan tidak bisa ditentukan dari melihat selaput dara
  • Pentingnya mengubah perspektif salah mengenai selaput dara untuk mencegah pengeksposan dan kekerasan wanita

Apa itu selaput dara?

Apakah yang dinamakan selaput dara dan dimanakah letaknya? Sebagian besar orang beranggapan mereka dapat menjawab pertanyaan tersebut. Kita mendengar dari orang tua, guru, bahkan dokter kandungan bahwa selaput dara merupakan simbol keperawanan perempuan.

Konon, selaput dara merupakan selaput tipis, seperti segel, yang akan rusak saat kamu mengalami hubungan seksual untuk pertama kalinya. Itulah mengapa hubungan seks pertama akan terasa sakit dan kita akan berdarah. Banyak keluarga yang ingin menikahkan anak perempuannya sebagai perawan menganggap sprei bernoda darah merupakan bukti utama bahwa perempuan “tidak pernah disentuh” sebelum menikah. Well, itulah cerita yang kita tahu, tapi sebenarnya ini sangat salah kaprah!

‘Selaput’ dara tidak pernah ada 

Selaput dara, yang orang pikir menyegel vagina tidak pernah ada. Selaput dara sama sekali tidak sama dengan segel Nutella yang harus dicoblos supaya kamu bisa mendapatkan kelezatan hakiki yang ada di dalam botolnya. Pada kenyataannya, selaput dara adalah selaput kulit yang melingkari bukaan vaginamu seperti sebuah cincin; Tidak tertutup. Gini deh, pernah nggak kamu penasaran mengapa para gadis perawan harus membeli berbagai jenis produk menstruasi? Jika vaginamu tertutup, maka kamu tidak akan pernah bermenstruasi dan mengalami masalah serius di area intimmu dan segera memerlukan penanganan dokter – dengan cara dibelah untuk mencegah infeksi serius.

Bentuk selaput dara berbeda-beda pada tiap wanita sama dengan bagian tubuhmu yang lain, bentuknya unik dan sangat fleksibel. Maka dari itu, adalah salah jika kamu berpikir bahwa tiap wanita harus mengalami sedikit pendarahan saat malam pertama, atau jika kamu berdarah maka kamu bergaransi perawan. Plot twist, pendarahan juga terjadi apabila pasanganmu kurang berpengalaman dalam berhubungan seks.

Keperawanan tidak bisa ditentukan dari mengamati selaput dara

Fakta seru, selaput dara dapat terlihat sama dan tidak berubah sama sekali, bahkan setelah melahirkan. Tidak ada dokter, pasangan atau siapapun yang mampu melihat atau merasakan perbedaan antara perawan atau yang tidak. 10 tahun yang lalu, Swedia telah menghilangkan penggunaan kata selaput dara dan menggantinya dengan kata korona vagina. Alasannya, penyebutan dalam Bahasa membentuk realitas dan nama baru ini paling dekat dengan kenyataan dibandingkan dengan istilah lainnya. Di Jerman, orang orang bahkan masih menyebutnya sebagai “Jungfernhäutchen” yang secara harfiah diartikan sebagai kulit perawan. Jadi, sebetulnya masalah penyebutan ini tidak hanya terjadi di Indonesia atau negara muslim saja.

Miskonsepsi total dalam penggunaan istilah selaput dara memicu adanya tes keperawanan abusif di kemiliteran dan kepolisian Indonesia, yang mana sebetulnya tidak berdasarkan fakta dan bahkan tidak sesuai dengan realita. Bayangkan seberapa konyolnya bila kamu melamar pekerjaan di bidang sales atau marketing, tapi kemudian kamu diminta untuk melakukan tes keperawanan – yang berarti akan ada seseorang memasukkan satu atau dua jari ke dalam vaginamu sebelum kamu mendapatkan kontrak kerja. Belum lagi, sebetulnya keperawanan merupakan ranah pribadi dan pihak pemberi kerja tidak akan mendapatkan info apapun dari tes keperawanan.   

Pentingnya mengubah perspektif salah mengenai selaput dara untuk mencegah pengeksposan dan kekerasan wanita

Banyaknya jumlah orang yang salah kaprah mengenai perspektif keperawanan menyebabkan adanya stigma mengenai perempuan yang “tidak perawan” dan pengeksposan wanita pada salah satu bentuk kekerasan seksual.  Jika orang tuamu, gurumu, doktermu atau bahkan dirimu masih salah memahami anatomi tubuhmu sendiri maka malpraktek, kekerasan, dan pengekangan kebebasan akan tetap ada. Tiap generasi akan menurunkan pengetahuan yang salah dan memicu pertikaian jika wanita tidak mampu berdarah saat malam pertama. Fenomena ini juga akan menimbulkan metode aneh dan bodoh lainnya yang dirancang untuk menyenangkan pihak-pihak yang seharusnya tidak memiliki urusan atas ranah pribadimu. Rekonstruksi selaput dara juga menjadi sebuah fenomena dimana kamu harus mengeluarkan gaji bulanan berlipat-lipat demi membayar seorang dokter untuk melunakkan vaginamu tanpa manfaat kesehatan apapun. Atau, kekerasan terhadap binatang agar kamu bisa memperlihatkan darah di sprei ranjangmu jika korona vagina unikmu tidak mampu memenuhi harapan masyarakat.

Masih banyak orang tetap menggunakan istilah selaput dara – yang mana kurang tepat supaya mereka dapat menciptakan realita yang tidak menyenangkan bagi wanita. Jadilah bagian dari perubahan dengan mengedukasi ibumu, saudara perempuanmu, atau temanmu. Bahkan saudara laki-lakimu akan dapat memahami bahwa hubungan seksual bagi perempuan untuk pertama kalinya tidak selamanya menyakitkan, karena rasa sakit dan pendarahan yang terjadi tidak ‘separah’ saat menstruasi walaupun reaksi tiap wanita pada umumnya berbeda-beda.

Pada dasarnya konsep keperawanan di masyarakat saat ini sebagian besar hanyalah omong kosong patriarkis yang dibuat oleh kaum laki-laki yang ingin memastikan bahwa anak yang dilahirkan pasangannya merupakan darah dagingnya sendiri. Itulah pencetus utama kultus keperawanan dan kemistikan selaput dara. Kamu tidak pantas diperlakukan seperti itu dan menderita akibat kesalahan informasi yang masih tetap dipercaya. Hubungan yang sehat dan saling percaya lebih penting daripada mempertahankan keperawanan karena alasan moral. Bahkan sebetulnya perempuan masih dianggap perawan kendati merupakan penyintas kekerasan seksual, karena melepaskan keperawanan sejatinya adalah hubungan seksual dengan persetujuan antara dua orang dewasa yang sudah siap melakukannya.   

Kesimpulan

Jadi, apa saja kesimpulan dan fakta apa saja yang dapat diambil dalam bahasan ini?

  1. Selaput daramu tidak berhubungan dengan keperawanan. Kamu harus melakukan hubungan seks yang konsensual agar bisa dikatakan ‘melepas keperawanan’
  2. Selaput dara atau korona vaginamu tidak akan rusak bila kamu bermasturbasi, menggunakan tampon atau menstrual cup
  3. Selaput daramu tidak tertutup dan tidak akan mengatup jika kamu tidak berhubungan seks
  4. Kamu tidak membutuhkan tindakan operasi untuk membentuk kembali selaput daramu
  5. Tidak ada yang bisa mengetahui keperawanan seseorang berdasarkan pengamatan selaput dara
  6. Selaput daramu mungkin tidak akan rusak saat berhubungan intim
  7. Selaput daramu mungkin tidak akan mengeluarkan darah saat terkoyak dan rasa sakit saat berhubungan seks umumnya hanya sedikit terasa
  8. Selaput dara bersifat unik pada tiap individu

Selain itu, mungkin poin terpenting dari artikel ini adalah: Selaput daramu adalah urusan pribadimu. Itu adalah milikmu dan buatlah orang lain memahaminya.

Setujukah kamu dengan tulisan kami? Apakah kamu masih khawatir mengenai selaput daramu meskipun kamu masih perawan, atau apakah kamu saat ini membatasi diri karena takut selaput daranya akan robek? Beri tahu tanggapanmu di kolom komentar ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *